[FF] as Sweet as Swiss – 1

As Sweet As Swiss

 

Romance – Fiction Story

 

Yoona Lim, Siwon Choi

 

Storyline by: Haaneefah

 

Poster by: xoloveyoonwon

 

as sweet as swiss4

 

h a a n e e f a h 2 0 1 6 p r e s e n t s

 

 

As Sweet As Swiss

Bagian 1

 

 – –

 

 

Yoona dan Yuri sibuk cekikikan dikubikel milik Yuri saat jam makan siang. Mereka menertawakan gambar-gambar meme yang memparodikan kemenangan Leonardo De Caprio di ajang penghargaan Oscar selama lebih kurang dua puluh tahun lamanya De Caprio tidak pernah menginjakan kakinya diatas panggung Oscar lalu membawa pulang penghargaan setelah sekian lama De Caprio hanya duduk dibangku penonton sebagai nominasi.

 

Yoona dan Yuri tidak mentertawakan nasib De Caprio yang baru beruntung tahun ini. Mereka mentertawakan reaksi para netizen setelah mengetahui bahwa tahun ini De Caprio bisa menang. Reaksi para netizen benar-benar luar biasa. Ada yang memparodikan adegan Jack dan Rose yang sedang berdiri di ujung kapal dengan tangan Rose yang membentang dan tangan Jack yang memeluk tubuh Rose di film Titanic, sebuah film romantis terlaris sepanjang masa, dengan quotes yang melegenda pula, Gods himself couldn’t sink this ship. Ada yang saking senangnya langsung mencium pacarnya. Ada yang menanggis terharu. Bahkan disejumlah top news situs berita online, reaksi para netizen ini lah yang menjadi treanding dibanding dengan kemenangan De Caprio.

 

“Ada-ada saja.” Celetuk Yuri.

 

“Hahaha, aku tidak menyangka akan seperti ini.” Tambah Yoona.

 

“Bahkan Kemenangan Om Leo melebihi euforia kemenangan film of the years.” Mata Yuri masih saja sibuk meihat satu persatu meme-meme di halaman 9gags.

 

“Oh ya, ngomong-ngomong hari ini kamu sibuk tidak? Ada cafe baru di ujung jalan sana. ” Tanya Yoona mengganti topik. Yoona dan Yuri sering mengunjung café atau tempat makan yang sekiranya baru. Mereka berdua sama-sama menyukai makanan. Jika Yoona lebih suka memfoto makanan tersebut lalu menggungahnya ke media social miliknya kemudian memberikan review tentang rasa, cara penyajian, harga dan tentu saja interior desaign café yang mereka kunjungi. Maka berbeda dengan Yuri. Yuri lebih suka memfoto gaya dan cara berpakaiannya sehari-hari. Kemudian menggugahnya ke social media. Dan hal ini tentu saja membuat followers mereka menjadi banyak.

 

“Benarkah? Tapi sayang hari ini aku ada acara.”

 

Yoona terlihat kecewa dengan jawaban Yuri. Ini sudah kali ketiganya Yuri menolak ajakan pergi darinya. Dari mulai sibuk, capek, dan sedang malas pergi keluar. Yoona bisa memakluminya. Karena ia sendiri pun juga merasa lelah dengan setumpuk pekerjaan yang ia emban. Bekerja sebagai seorang engineer perempuan di salah satu perusahaan jam tangan membuatnya harus rela pulang malam karena lembur. Bukan berarti karena ia seorang engineer perempuan maka porsi kerjanya pun sedikit. Karena zaman globalisasi seperti ini sudah menggenal kata emansipasi.

 

Sedangkan Yuri, ia berada dibagian marketing. Walaupun berbeda divisi, namun Yoona dan Yuri adalah seorang sahabat. Karena mereka sudah menjalin pertemanan sejak lama. Latar belakang mereka lah yang membuat keduanya dekat sampai sekarang. Mereka sama-sama berasal dari Asia. Mereka juga tergabung dalam satu organisasi yang sama. Organisasi yang memayungi sekelompok minoritas di negara mayoritas berpenduduk bangsa Jerman.

 

Di sebuah negara yang cukup luas dengan udara sejuk karena banyak dikelilingi oleh pegunungan Alphen. Sebuah negara yang berbatasan dengan Jerman, Austria, Perancis dan sebuah kerajaan kecil bernama Leinteinstein. Sebuah negara yang terkenal sebagai negara penghasil jam tangan mewah di dunia seperti Longines, Chopard dan Rolex, bahkan setengah dari jam mewah di seluruh dunia, berasal dari negara ini.

 

Switzerland atau lebih dikenal dengan nama Swiss. Negara yang dikenal paling netral karena tidak pernah terlibat perang dunia baik perang dunia I atau pun perang dunia II. Negara yang banyak memiliki markas-markas besar organisasi dunia, seperti PBB, WHO, dan ILO.

 

Yoona dan Yuri adalah pendatang di Swiss. Di sini lah sekarang mereka tinggal, meninggalkan tempat asal nenek moyang mereka. Kini mereka menetap di kota terbesar yang ada di Swiss, Zurich. Sebuah kota yang dinobatkan sebagai kota dengan kualitas hidup terbaik pada tahun 2006 dan 2007.

 

Tak heran jika mereka bersahabat dekat. Meskipun mereka tidak bersekolah ditempat yang sama, karena Yuri yang sekolah di Universitas Zurich, sebuah univeristas yang pernah melahirkan seorang yang bernama Ernest Douwes Dekker, yaitu seorang perintis kemerdekaan disebuah negara kepulauan di Asia, Indonesia. Sedangkan Yoona bersekolah di ETH:Zurich, sebuah institute teknologi yang pernah melahirkan beberapa peraih nobel. Bahkan Albert Einstein adalah lulusan dari institute tersebut.

 

“Ya sudah kalau begitu.” Balas Yoona lesu.

 

“Maafkan aku.”

 

“Sudahlah. Bagaiman jika sekarang kita keluar dan mampir sebentar ke café di depan, selagi jam makan siang belum berakhir? Sekalian aku ingin melihat pria itu. Siapa tahu dia ada disana.” Yoona menatap Yuri dengan wajah penuh harap. Tangannya beratut menjadi satu seperti sedang memohon. Yang dibalas Yuri dengan sebuah anggukan.

 

 

Yoona mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru café. Matanya sibuk mencari seseorang yang selama ini ia kagumi. Seorang pria yang bekerja disebelah gedung kantor tempatnya bekerja. Pria itu telah lama mengisi pikiran Yoona. Awalnya Yoona hanya memperhatikan pria itu karena iseng, namun perbuataanya itu lama kelamaan menjadi candu untuknya. Setiap hari setiap jam makan siang, Yoona akan curi-curi pandang dengan pria itu. Mencoba mencari celah disetiap kesempatan agar bisa memperhatikan pria tersebut. Yoona belum berani bertindak lebih selain hanya mengamatinya dari jauh.

Walaupun begitu, diam-diam Yoona menaruh rasa pada pria tersebut. Karena siapapun kita pasti punya seseorang yang kita sukai secara diam-diam. Saat kita memikirkan mereka seperti ada rasa sakit didada tapi kita tetap ingin menyimpan dia di dalam hati. Tentu saja Yuri mengetahuinya. Yuri tahu kalau Yoona menyukai pria tersebut. Karena Yoona bukanlah seorang yang introvert, Yoona selalu menceritakan apa yang ia alami kepada Yuri.

 

“Yuri…”

 

Merasa ada yang memanggil Yuri megedarkan matanya mencari siapa gerangan yang tadi memanggilnya. Begitupun Yoona, ia juga ikut mencari seseorang itu.

 

“Arah jam 03.00.”

 

Kemudian mata keduanya menangkap seorang pria yang kini tengah duduk sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring makan siang. Yoona membelakan kedua matanya. Pria itu. Pria yang dikaguminya selama ini. Pria yang diam-diam ia rindukan. Pria yang tadi memanggil nama Yuri bukan Yoona, namanya.

 

Yuri yang melihat keterkejutan diwajah Yoona, hanya bisa menghela nafas. Tentu saja Yoona terkejut bukan main. Pasti banyak pertanyaan yang berputar dikepala Yoona. Ada hubungan apa antara Yuri dan Pria itu? Bagaimana bisa mereka saling mengenal. Bukankah selama ini Yoona dan Yuri selalu bersama. Tetapi mengapa pria itu justru kenal dengan Yuri.

 

“Hai Alex.” Sapa Yuri canggung.

 

“Hai Yuri dan ….” Alex mengantungkan sapaan nya ketika dilihatnya bukan hanya Yuri tapi ada seorang perempuan yang berdiri canggung disebelah Yuri.

 

“Yoona.” Yoona gugup memberitahukan namanya kepada Alex. Jantung Yoona berdetak cepat. Baru sekarang Yoona bisa sedekat ini dengan pria itu. Bahkan baru sekarang juga ia mengetahui nama pria tersebut.

 

“Ah… Yoona.” Alex tersenyum kepada Yoona. Yoona menganguk kecil, ia tersenyum diam-diam. Demi apapun, saat ini Yoona benar-benar merasa senang. Alex menyebutkan namanya begitu manis. Kemudian Yoona dan Yuri duduk berhadapan dengan Alex. Awalnya niat Yoona datang ke café untuk melihat pria di depannya saat ini. Namun sekarang, dia bisa berhadapan lagsung tanpa harus berpura-pura melihat seluruh interior café. Sungguh, hari ini Yoona merasa senang sekali.

 

“Baru akan makan siang?” Tanya Alex kepada Yuri.

 

“Iya.” Jawab Yoona.

 

Alex menaikan alisnya. Pertanyaannya tadi ia tanyakan kepada Yuri, tapi malah dijawab oleh Yoona. Alex tak ambil pusing. Biarkan saja mungkin Yuri tidak mendengarnya.

 

“Nanti malam jadikan?” Alex melanjutkan makan siangnya sambil melirik Yuri yang dari awal diam.

 

“Nanti malam?” Yoona mengerutkan dahinya.

 

“Aku sedang bertanya dengan Yuri, nona.” Alex tersenyum kepada Yoona. Namun senyuman itu tidak membuat Yoona bereaksi apa-apa. Tubuhnya tidak menegang. Jantungnya pun kini sedang berdetak normal.

 

“Yuri…” Panggil Alex kemudian menyudahi makan siangnya.

 

Yuri masih diam. Sejak tadi Yuri hanya menundukan kepalanya menatap rok merah maroon yang ia gunakan.

 

“Yuri sayang…”

 

Deg! Yoona merasa dunianya berhenti. Tubuhnya melemas seperti jelly. Hatinya mencelos seketika. Panggilan pria itu kepada sahabatnya benar-benar membuat Yoona diam terpaku. Panggilan itu bukan sembarang panggilan biasa. Tidak mungkin mengatakan sayang jika Alex dan Yuri baru kenal beberapa hari. Tidak mungkin pula Alex memanggil Yuri dengan kata sayang karena mereka berdua adalah sahabat. Karena, sungguh mustahil jika ada persahabatan yang terjalin anatar dua lawan jenis yang tidak meimbulkan cinta. Pasti ada saja satu dari mereka yang mencintai sahabatnya diam-diam. Dan itu artinya, jikapun Alex dan Yuri bersahabat, mereka berdua terjebak dalam satu persaan yang sama, yaitu cinta.

 

“Maaf sepertinya jam makan siang ku sudah habis. Aku pergi dulu.” Yoona berpamitan kepada Alex dan Yuri. Suaranya begitu lirih. Matanya pun kini berkaca-kaca. Yoona tak tahan dengan situasi ini. Situasi yang membuatnya begitu terhimpit dengan perasaan sesak di dalam dada.

 

“Tunggu, aku ikut.” Yuri berdiri dari kursinya, kemudian mengikuti Yoona yang baru beberapa langkah. Yoona mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari cafe ini. Sesampainya di luar café, Yoona kemudian berlari menuju kantor tempatnya bekerja sambil beberapa kali tangannya menghapus air mata yang turun tanpa bisa dicegah lagi.

 

Yuri pun tak tinggal diam, dia berlari mengejar Yoona. Beberapa kali Yuri meneriakan nama Yoona agar berhenti. Tapi Yoona tetap berlari sekuat tenaga tanpa memperdulikan teriakan Yuri. Baru sampai di loby kantor lah Yoona merasa lelah dan tak kuat untuk berlari. Yuri memanfaatkan situasi tersebut. Yuri memegang tangan Yoona lalu membawanya menuju ruang tangga darurat yang berada diujung.

 

Sesampainya mereka berdua di sana, Yoona menghentakan pegangan Yuri pada tangan kananya. Matanya menatap tajam Yuri dengan nafas yang naik turun. Pancaraan kekecewaan benar-benar terlihat dari sorot tajam milik Yoona.

 

“Yoona…” Lirih Yuri menatap kedua mata Yoona. Perasaan bersalah kini melingkupi perasaan Yuri. Yoona memalingkan wajahnya. Yoona tidak mau melihat Yuri.

 

“Aku minta maaf untuk apa yang kamu lihat dan dengar tadi. Itu semua tidak seperti apa yang kamu bayangkan. Kami hanya berteman.”

“Hanya berteman katamu?” Yoona tersenyum sinis mendengar penjelasan Yuri. Apa katanya tadi, hanya berteman? Orang bodoh pun tahu apa arti dari kata sayang. Dan Yoona tidak sebodoh itu untuk dibodohi.

 

“Yoona…” Lirih Yuri. Ia bingung harus mengatakan apa, memang benar saat ini mereka berdua sedang berteman. Tapi Yuri sadar akan perasaan Alex padanya begitupula perasaan Yuri terhadap Alex. Dan untuk yang terakhir, Yuri tidak berani mengatakannya.

 

“Jangan memanggil namaku seolah-olah kau benar-benar sahabatku! Tidak ada seorang sahabat yang tega menikam sahabatnya sendiri. Apa arti persahabatan kita selama ini? Apa aku tak berarti untukmu? Bertahun-tahun kita bersama tapi kau menghancurkan persahabatan kita dengan sebuah pengkhianatan seperti ini.”

 

“Aku tidak berkhianat.”

 

“Kau berkhianat.”

 

“Tidak.”

 

“Ya.”

 

“Baiklah, aku berkhianat”

 

Hati Yoona serasa di sayat-sayat dengan pisau tajam. Kata-kata Yuri  bagai pisau tajam yang menyayat hatinya. Penuh luka, darah dan sakit. Ternyata hanya sampai disini mereka berdua ditakdirkan menjadi sahabat. Sampai disini mungkin persahabatan yang dijalin setelah sekian lama harus berakhir. Because friends, boyfriends, girlfriends, and best friends, has an ends.

 

“Aku telah mengahancurkan persahabatan kita. Aku mengkhianati mu. Aku berbohong kepadamu. Aku dan Alex memang hanya teman. Tapi aku mempunyai perasaan kepadanya. Aku lebih dulu mengetahuinya. Aku lebih dulu menggaguminya. Dan aku lebih dulu mencintainya dibanding kau. Setiap kau bercerita tentang Alex, diam-diam aku cemburu dan hati ku sakit. Karena aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Aku menyimpan perasaan ini sendirian. Biarlah hanya aku yang tahu. Tapi suatu ketika aku dan Alex bertemu, kemudian kami berteman dan semakin lama semakin dekat. Aku tidak siap menceritakan ini kepada mu. Aku tidak siap jika aku memperkanlakan mu kepada Alex, aku takut jika nanti Alex jatuh cinta kepadamu seperti sebelum-sebelumnya. Sudah banyak teman pria yang ku taksir jatuh cinta kepada mu. Aku lelah dengan hal itu. Sekali-kali aku ingin menjadi seseorang yang egois. Tidak sadar kah kau Yoona, bahwa kau telah merebut mereka semua dari ku? Taukah kau hal apa yang paling menyedihkan didunia ini? Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu? Atau mencintai seseorang yang mencintai orang lain? Bagaimana jika kau mengalami keduanya? Mencintai seseorang yang tidak mencintai mu sementara ia mencintai gadis lain dan gadis lain itu adalah sahabatmu?” Yuri akhirnya menanggis. Sesuatu yang selama ini ia simpan rapat-rapat akhirnya terihat. Bukankah sepandai-pandainya tupai melompat, tupai itu akan jatuh juga?

 

Yoona termenung. Memang ia baru mengetahui itu semua sekarang. Yoona bukan seseorang yang peka. Ada perasaan bersalah terhadap Yuri. Tapi disisi lain tindakan Yuri tersebut sama saja dengan sebuah pengkhiantan. Yuri telah membohongi Yoona. Yuri diam-diam bermain dibelakangnya. Lagipula, Yoona tidak tahu jika teman pria yang ditaksir Yuri malah jatuh cinta kepadanya, toh Yoona sendiri tidak ada rasa sama sekalai dengan teman-teman Yuri. Tapi ini jelas beda, Yoona ada rasa kepada Alex, dan menurutnya Yuri juga ikut andil dalam permasalahan ini. Kenapa Yuri hanya diam saja? Seandainya Yuri mengatakannya lebih dulu, maka Yoona akan lebih memilih mundur teratur dan merelakannya. Bagi Yoona, kebahagian Yuri adalah kebahagiaan Yoona. Tapi semua itu percuma. Semuanya sudah terjadi dan kini mereka hanya bisa menyesali. Seperti waktu yang tidak akan pernah bisa diputar lagi.

 

Kemudian suasana menjadi hening. Keduanya sama-sama terdiam dengan nafas yang naik turun karena kelelah menangis. Yoona kemudian memutuskan pergi dan keluar meninggalkan Yuri beserta kesedihan diantara mereka. Meninggalkan sahabat yang telah mengkhianatinya. The saddest thing about betrayal is that it never comes from your enemies

 

 

 

Pagi-pagi sekali Yoona mengendarai mini buddy, sebutan untuk mobil kesayangannya, meninggalakan Zurich. Hari ini Yoona tidak bekerja. Ia memutuskan untuk mengambil cuti, lagipula sudah satu tahun belakangan ia belum menggunakan masa cutinya. Yoona pikir ini saat yang tepat untuk menggambil jatah cutinya untuk pulang . Sudah satu tahun pula Yoona tidak pulang karena kesibukan Yoona yang benar-benar sibuk.

 

Yoona menyetir mini buddy nya dengan tenang dan santai, seolah kemarin tidak terjadi apa-apa. Wajahnya pun terlihat cerah. Tidak ada lingkar hitam dibawah kelopak matanya. Karena sehabis drama antar dirinya dengan Yuri kemarin, ia langsung mengompres mata nya dengan sendok. Yoona tidak ingin terlihat seperti mayat hidup. Apalagi hari ini ia akan pulang. Yoona tidak ingin memberi kesan buruk pada dirinya begitu sampai di rumah. Yoona bisa membayangkan bagaimana wajah terkejut ibunya ketika melihat putri kesayangannya pulang dengan keadaan mengenaskan.

 

Hari ini pulang. Itulah kata-kata yang sejak bangun tidur selalu Yoona teriakan. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan keluarganya. Mobil yang Yoona kendarai tidak mengarah kearah Kloten ataupun timur laut. Yoona tidak berniat pergi ke bandara dan pulang ke negara asalnya. Karena pulang yang ia maksud adalah pulang ke rumah orang tuanya.

 

Tanpa sadar Yoona sudah mengemudi sangat jauh, meninggalkan Zurich. Sekarang mobilnya sedang melaju dijalanan yang cukup lengang karena hari ini bukan hari libur jadi wajar saja bila jalanan di kota ini sedikit sepi. Karena biasanya jalanan di Luzern akan ramai pada saat weekend ataupun musim liburan.

 

Luzern memang hanyalah kota kecil di Swiss, namun sebenarnya kota ini sangat ramai. Karena Luzern menjadi tujuan utama transit para wisatawan ketika mereka hendak berpergian ke gunung Pilatus ataupun gunung Tillis.  Selain itu banyak orang-orang yang melintasi kota ini ketika hendak pergi ke Zurich, Bern ataupun Jenewa. Karena melewati Luzern adalah cara terbaik dibandig harus melewati desa-desa kecil di Swiss dengan jalanan sempit dan bergunung-gunung.

 

Rumah kedua orang tua Yoona berada di Luzern, pantas jika Yoona tidak pergi ke bandara. Sudah sejak lama keluarga Yoona pindah ke Swiss karena dulunya ayah Yoona adalah seorang saintis yang bekerja di CERN, sebuah laboratorium fisika partikel terbesar di dunia yang berlokasi di Jenewa. Fisikawan mana yang tidak tahu tentang CERN? CERN merupakan organisasi Eropa untuk riset nuklir yang mengoperasikan mesin penumbuk atom yang disebut dengan Large Hadron Collider (LHC). Alat ini berupa terowongan berbentuk lingkaran dengan keliling sebesar 27 km, di dalam tanah dekat dengan perbatasan antara Swiss-Perancis di Jenewa. Alat tersebut digunakan untuk mempelajari komponen terkecil dari materi sehingga bisa menjeleskan bagaimana semua benda di dalam alam semesta ini bisa terbentuk.

 

Namun ayah Yoona kemudian memutuskan untuk pensiun dan ingin menghabiskan masa tuanya dengan santai. Sudah cukup rasanya ia menjadi seorang saintis yang terus menerus berfikir dan meneliti bagaimana alam semesta ini terbentuk. Kemudian memutuskan untuk menetap di Luzern. Selain karena udaranya yang sangat sejuk, Luzern dikelilingi oleh pemandangan yang sangat indah. Sekarang ayah Yoona berjualan dengan membuka minimarket kecil di Luzern.

 

Ting…..

 

“Apakah anda menjual anggur?”

 

“Astaga Yoona?” Tuan Im, ayah Yoona membelalakan matanya terkejut. Anaknya yang sudah setahun lamanya tak pulang, akhirnya kini berada di hadapannya.

 

“Hai papa?” Yoona tersenyum lebar melihat ekspresi terejut dari wajah ayahnya.

 

“Anak nakal! Kemana saja kau selama ini? Setahun tidak pulang-pulang. Kau tidak kasihan pada papa mu yang sudah tua ini?”

 

“Tapi papa sehat kan? Bahkan papa terlihat lebih muda dan …. Tampan.” Goda Yoona. Tuan Im menggeleng-gelengkan kepalanya. Anak perempuannya masih sama saja. Beliau pikir Yoona akan berubah lebih dewasa setelah tinggal lama di Zurich.

 

“Kau ini masih sama saja seperti yang dulu.”

 

“Memang papa mengarapkan aku seperti apa? Taylor Swift? Nanti papa semakin kangen dengan ku karena aku akan sibuk dengan konser ku di seluruh dunia dan tidak bisa mengoda pria tampan di depan ku sekarang.”

 

“Dasar! Cepat masuk rumah! Papa akan menutup toko dahulu.”

 

“Kenapa tutup, pa? Apa sebentar lagi ada Viking yang akan merampok toko papa?”

 

“Ah… mulut mu itu benar-benar. Papa akan menutup toko karena rumah papa kedatangan seorang putri yang akhirnya menemukan jalan pulang setelah sekian lama lupa dimana istananya berada.” Tuan Im memukul kepala Yoona dengan gemas. Lalu Yoona masuk ke dalam rumah melalui pintu yang menghubungkan antara toko dengan rumahnya.

 

“Hai mama?” Teriak Yoona lalu berlari memeluk ibunya yang sedang merajut sambil menonton Tv.

 

“Anak nakal! Kemana saja kau selama ini? Setahun tak pernah pulang. Hanya member kabar lewat telephone. Itu pun jarang sekali. Kalau pun ingat hanya mengirimi mama lewat WhatsApp. Mama sangat khawatir dengan kondisi mu. Apa putrid mama sudah makan? Apa putrid mama hidup dengan baik? Apa putri mama sedang didekati oleh seorang pria?” Omel Nyonya Im. Seteah ini tolong ingatkan Yoona untuk berterimakasih kepada Brian Acton dan Jan Koum yang sudah menciptakan WhatsApp yang sedikit banyak membantunya untuk berkomunikasi dengan ibunya.

 

“Mamaaa… Anaknya pulang bukannya disambut dengan baik malah diomelin.”

 

“Baiklah tuan putri, saya tahu anda lelah. Sebaiknya anda beristirahat dahulu. Kemudian saya akan memasak sesuatu yang enak untuk anda.”

 

“Saya merasa tersanjung paduka ratu. Saya pamit untuk pergi ke kamar saya untuk beristirahat.” Yoona mencium pipi ibunya lalu berjalan menuju kamarnya yang dulu pernah ia tempati sambil menarik koper kecil warna silver yang tadi dibawanya dari Zurich.

 

Kamar Yoona terletak di lantai dua. Kamarnya bersebelahan dengan kamar adik laki-lakinya. Dulu sewaktu Yoona masih remaja, ia sering tidur berdua dengan adiknya. Jika hari sabtu tiba, mereka akan begadang bersama bermain play station ,melihat pertandingan sepak bola favorit mereka atau menonton film bersama. Ia dan adiknya bukanlah tipe pemilih, mereka menikmati segala jenis genre film. Tapi untuk genre film dewasa mereka memilih untuk tidak menontonnya, mereka tahu dampak apa yang akan ditimbulkan dari film dewasa tersebut.

 

Ah! Yoona jadi merindukan YoonJo, adik kecilnya itu. Yoona ingin mengulang lagi kegiatan rutin mereka setiap sabtu. Sekarang Yoona sudah bekerja dan sudah mempunyai uang sendiri, jadi mereka tak perlu menunggu film yang mereka ingin tonton selama beberapa bulan setelah perilisan film. Sebenarnya Yoona dan adiknya dulu mampu untuk menoton film di bioskop atau pun membeli cd asli nya, tapi karena suatu kejadian di masa lalu yang membuat ibunya marah kepada mereka. Dulu sewaktu mereka masih tinggal di Jenewa, Yoona dan Yoonjo remaja pernah pergi ke sebuah perkebunan angur Lavaux yang terletak diantara Montreux dan Vevey disekitar danau Jenewa, tempat itu sekarang menjadi UNESCO World Heritage State, mereka berencana untuk membeli sebotol minuman anggur untuk teman minum mereka ketika begadang. Dan saat itu lah ibu mereka mempersulit mereka dengan membatasi jam main mereka dan membatasi uang jajan mereka.

 

Yoona ingat betul bagaimana Ibunya marah saat itu. Mereka masih cukup beruntung karena ibunya tidak melaporkannya kepada ayah Yoona. Tamat sudah jika sampai ayah Yoona tahu. Cukup kejadian itu saja terjadi, Yoona dan YoonJo sudah kapok dan berpikir ulang untuk melakukan sesuatu.

 

Setelah meletakan koper dan tas di kamar nya dulu, Yoona berjalan masuk menuju kamar YoonJo yang tepat berada disebelah kanan kamarnya. Ia ingin tidur disana agar sewaktu adiknya pulang nanti, adiknya akan terkejut melihat kakak cantiknya sedang tidur di atas ranjangnya. Begitu pikir Yoona.

 

Tapi malah kini Yoona yang terkejut melihat tubuh seseorang yang sedang tengkurap di kamar adiknya. Yoona masih ingat bagaimana bentuk tubuh adiknya satu tahun yang lalu. Adiknya berpostur tinggi tegap, tidak terlalu kurus dan tidak terlalu kekar berotot. Tapi mengapa adiknya sekarang tubuhnya berotot dan lebih besar dari sebelumnya. Setahun tidaklah cukup untuk membentuk tubuh seperti yang ia lihat saat ini.

 

“YoonJo…”

 

Tanpa pikir panjang Yoona menindih tubuh yang ia pikir adalah tubuh adiknya dengan cukup keras. Tangan Yoona memeluk tubuh itu dengan erat. Yoona menciumi punggung tegap itu dengan senyuman yang mengembang. Sejenak ia merasa asing dengan bau tubuh adiknya. Walaupun setahun sudah berlalu, Yoona masih ingat dengan bau khas tubuh adiknya, karena bagaimanapun darah lebih kental dari air.

 

“Kaya bukan YoonJo.” Gumam Yoona masih dengan posisi tubuh menindih tubuh kekar itu.

 

Kemudian pemilik tubuh kekar itu membalikan badannya dan jadilah tubuh kecil yoona yang tidak seberapa dengan tubuh kekar itu terjatuh ke lantai.

 

“Aww…” Jerit Yoona kencang. Tubuhnya sakit bukan main. Yoona serasa dibanting oleh Manny Pacquiao, petinju dunia asal Filipina yang dulu sempat menjadi perbincangan karena kekalahannya melawan Mayweather yang sangat kontrovesional.

 

Kemudian hening sejenak setelahnya.

 

“Kamu siapa?” Tanya pria pemilik tubuh kekar itu setelah sadar dari tidurnya. Pria itu memandangi Yoona dengan pandangan tajam, suaranya pun terdengar begitu dingin di telinga Yoona.

 

“Kamu yang siapa?” Jawab Yoona lantang. Ia lalu berdiri dari posisinya, kemudian memegang tubuh pria itu dengan kasar. Meneliti satu persatu setiap bagian tubuhnya. Adiknya tidak mungkin berubah menjadi seperti ini. Adiknya terlalu cute untuk tubuh kekar seperti ini.

 

“Kamu bukan YoonJo! Kamu kemanakan adik kecil ku?” Yoona berteriak tepat di depan wajah pria itu. Tangannya mencengkram otot lengan pria tadi. Matanya menatap mata Siwon dengan pandangan tidak bersahabat. Sungguh  Yoona merasa dirinya benar-benar menjadi drama queen saat ini.

 

“YoonJo? Kamu berarti kakaknya yang cerewet  itu? Pantas saja wajah mu mirip dengannya.” Pria itu membalas tatapan Yoona dengan pandangan meremehkan.

 

“Aku tidak minta pendapatmu tentang wajahku. Sekarang katakan! Kamu kemanakan adikku?”

 

“Dia sedang di kampus.”

 

“Lalu kamu siapa?”

 

“Aku Siwon.”

 

 

Malam hari rumah orang tua Yoona nampak ramai. Mereka semua sedang mengadakan makan malam sederhana di ruang makan disertai candaan-candaan ringan yang lebih didominasi oleh Yoona. Setelah kejadian memalukan di kamar YoonJo tadi siang, Yoona terlihat malu berhadapan dengan Siwon yang saat ini sedang duduk disebelahnya. Ia telah menggira Siwon yang bukan-bukan. Dia pikir Siwon adalah seseorang yang telah membunuh adiknya lalu pria itu meracuni kedua oangtuanya agar ketika orangtua Yoona melihat Siwon, seakan mereka sedang melihat YoonJo.

 

Jalan fikiran Yoona benar-benar menyedihkan.Caranya menilai dan menyimpulkan tentang seseorang benar-benar payah. Bagaimana bisa seorang engineer bisa berpikir seperti itu. Yoona seperti tidak mencerminkan seorang alumni UTH:Zurich, malu sudah Yoona kepada almamaternya. Dan tolong jangan bandingakn isi kepala Yoona dengan Einstein. Jelas itu sangat berbeda dan bedanya sangat jauh sekali. Seperti jarak antara langit dan bumi

 

Setelah mendengar cerita ayahnya, ternyata Siwon adalah salah seorang anak teman ayahnya dulu sewaktu di Korea. Siwon baru saja tiba di Swiss satu hari yang lalu. Kemudian mampir dan singgah dirumahnya. Yoona sangat malu sekali. Ia seperti ingin melompat dari  puncak dam Swiss yang dulu pernah digunakan oleh James Bond untuk melompat dalam salah satu adegan di film Golden Eye, dimana tempat tersebut adalah titik lompat bungee jumping tertinggi didunia.

 

“Mama sangat merindukan moment-moment seperti ini, berkumpul lalu makan malam bersama dengan kedua anak mama yang nakal-nakal ini.”

 

“Mama……..” Teriak Yoona dan YoonJo bersamaan.

 

“Apalagi sekarang ada calon menantu kesayangan mama juga.”

 

“Calon menantu?” Tanya Yoona

 

“Iya.”

 

“YoonJo akan menikah?” Yoona menatap adiknya dengan penasaran. Tega sekali adiknya itu. Dia pikir dia siapa! Sudah berani melamar anak orang, kuliah saja ia belum selesai. Pikir Yoona.

 

Semuanya tertawa mendengar pertanyaan Yoona. Siapa yang akan menikah jika perempuan yang berada disitu hanya Nyonya Im dan Yoona sendiri. Tidak mungkin kan YoonJo akan menikahi Yoona kakaknya atau yang lebih parah Im Jinah ibunya.

 

“Aku akan menikah dengan siapa, kakak? Dengan Siwon Hyung?” Tanya YoonJo gemas kepada Yoona.

 

“Jangan katakana kalau dirimu adalah seorang LBGT!” Yoona menatap tajam adiknya. LBGT adalah jargon yang dipakai untuk gerakan emansipasi dikalangan non-heteroseksual. Istilah itu berasal dari singkatan bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender, untuk menunjukan gabungan dari kalangan minoritas dalam hal seksualitas.

 

“Aku masih normal kakak.”

 

“Lalu siapa yang akan menikah?”

 

“Kamu.” Jawab tuan Im.

 

“Aku?” Yoona menunjuk dirinya sendiri. Tolong katakana bahwa acara makan malam keluarganya bukanlah acara sinetron komedi. Tolong katakan  juga bahwa saat ini rumah Yoona tidak dipenuhi dengan kamera-kamera tersembunyi. Yoona belum siap untuk terkenal. Yoona belum siap menjadi seorang artis. Yoona sudah merasa cukup dengan predikat selebgram yang kini melekat pada dirinya berkat postingan-postingannya yang menarik. Akun media sosialnya bukan hanya membahas tentang makanan tapi disana juga ada beberapa foto OOTD miliknya yang terkenal dengan gaya yang simple tapi tetap cantik, lalu foto-foto tentang tempat-tempat keren di Swiss dan beberapa negara lain yang pernah Yoona kunjungi, membuat akun social media Yoona dibanjiri belasan ribu followers.

 

“Ya! Siwon akan menikah dengan mu. Dia datang kesini berniat untuk melamarmu.”

 

 

 

 

To Be Continued

 

 

 

 

Halo semuanyaaa……

Sebenernya ini bukan FF perdana, sebenerya dulu udah pernah nulis dan sempet dipost tapi bukan disini dan itu udah lama banget. Dan ff gw yang lama bener-bener ancur , tolong jangan dibaca kalo bisa wkwkwkw

 

Kenalan dulu deh, biar bisa sayang sama adiknya Yoona.

Kenalin, nama gw Hanifah boleh dipanggil Yeri juga kok, Kendal Jenner juga boleh.

Buat yang mau kenal lebih dekat sama aku, yuk cus follow medsos akuh.

 

IG: kendaljenner

Twitter: Kendal Jenner

FB: Maaf Kendal sekarang mainnya IG

 

Terimakasih semuanya.

Krtik dan saran sangat di nantikan dengan bahasa yang sopan ya say

Dan jangan sungkan buat koreksi jika adalah kesalahan penuliah atau kesalahan data.

Maklum masih amatir sayyy

 

Ditunggu komentarnya.

Dan selamat menunggu untuk lanjutannya hahahaha

 

Peluk cium dari aku untuk kalian semua :*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

127 thoughts on “[FF] as Sweet as Swiss – 1

  1. Aku sebenernya kesel sma yuri krna hianatin yoona…
    Tpi kasian jga krna cinta dia slalu sepihakm..
    Tpi klo dipikir2 kan bukan salah yoona knapa jadi bls le dia…
    Aneh ni orang…
    Dan aku jadi malu sendiri pas baca ternyata yoona kira siwon itu adiknya…
    Dan skarang dia mau dinikahin sma siwon???
    Jafi penasaran selanjutnya

    Like

  2. Aku sebenernya kesel sma yuri krna hianatin yoona…
    Tpi kasian jga krna cinta dia slalu sepihakm..
    Tpi klo dipikir2 kan bukan salah yoona knapa jadi bls le dia…
    Aneh ni orang…
    Dan aku jadi malu sendiri pas baca ternyata yoona kira siwon itu adiknya…
    Dan skarang dia mau dinikahin sma siwon???
    Jadi penasaran selanjutnya

    Like

  3. Next thorr
    Kok yuri nya tega banget ya nyembunyiin semua nya dari yoona,kan yoona jadi kesel kan dan kecewa sama yuri,seharusnya yuri itu terus terang aja dari awal sama yoona

    Like

  4. omonaa ! ceritanya keren bget…
    aku kudet:3 :3
    karakternya mommy yoong juga oke…
    astaga ! yuri eonn knapa tega skali…
    jadinya persahabatan kalian jadi rusak kan ? ?
    hahaha!! tingkah mommy sama kedua ortunya sangat menggemaskan..
    apalagi waktu mommy masuk ke kamar yoonjo dan langsung nindih seseorang yang dikira yoonjo.. dan itu ternyata daddy won won… :3
    dan omoo! mommy mau dijodohin sama daddy ?
    kyaaa!!!!! aku sesujuu

    Like

  5. Hai salam kenal ya. Ffnya bahasanya teratur dan agak campur ilmu pengetahuan. Hehehe tapi suka sama jalan ceritanya perpaduan korea dan eropa banget menurutku. Salam kenal lagi ya 🙂

    Like

  6. Kerennnn 8-)8-) pertama baca part 3 udah keren gitu, baca part 1 ceritanya udah bagus, ini cerita bedah banget sama yang lain thor~ latar ceritanya beda, ada edukasinya tempat2 bersejarah diceritaiin , wahhh inii ff baru favorit .. Malah penasaran part2nya tambah seruu 🙂

    Like

  7. Makasih buat yurii udh khianatin yoona unnie akhirnya yoona unnie pulang trus ktmu wonppa hahha lucu nih critanya … tp pasti romantis.. ditunggu klanjutannya. Gomawo

    Like

  8. Duhh pasti yoona sedih kan pas cowo incerannya ternyata suka sm yuri tp ada sukurnya juga sih jadi kan yoona pulang ke rmh orgtuanya ehhh malah ketemu siwon yg bakal jd suaminya… Walaupun masih bingung ko bisa siwon mau ngelamar yoona ngeliat dr sikap aiwon yg biasa aja

    Like

  9. Omg persahabatan yg rusak karna cwok,,kasian Yoona dihianati ma Yuri tp Yuri juga ngak spenuhnya salah sich,,,lucu waktu Yoona ngira klo wonpa tuch adiknya,,,

    Like

  10. Omg persahabatan yg rusak karna cwok,,kasian Yoona dihianati ma Yuri tp Yuri juga ngak spenuhnya salah sich,,,lucu waktu Yoona ngira klo wonpa tuch adiknya,,,seru critanya

    Like

  11. Kasian yoona jadi merasa dikhianati, 😦
    sebenarnya yuri tidak melakukan penghiatan ke yoona ini cuma kesalahpahaman aja…
    dan yuri seharusnya bilang lebih awal ke yoona kalau dia dan alex punya perasaan yang sama..
    semoga persahabatan mereka cepat bersatu kembali…
    tapi dengan kejadian itu yoona pulang ke rumah orang tuanya dan ketemu siwon…
    malah siwon mau ngelamar yoona juga 😀

    Like

  12. kalo pernah ngalamin kaya yoona itu emang nyesek.. semoga setelah kejadian itu yoona bisa mendapatkan pengganti yg lebih baik.. mungkin dengan siwon walaupun baru kenal semoga bisa membuat yoona jatuh hati 🙂

    Like

  13. Halooo author salam kenal yaa 🙂
    Suka banget cerita nya menarik … apalagi latar belakang nya beda dr yg lain >> SWISS ♡♡
    Suka sama pemilihan kata yg dipake bagus thor baku tp ttp mudah utk dicerna yippiiii hihihi udh gitu setiap tempat atau menjabarkan sesuatu nya author sangat detail jd nambah pengetahuan kita kyk msalnya ambil cth adegan dlm film, tntg kampus di swiss, tmpat2 gitu deh hehe salut buat author yg pengetahuan nya tntg Swiss luas juga yaa jd makin bikin menarik alur crtanya. . Daebaakkk…
    .
    Msih penasaran nih siwon kok tiba2 bsa ngelamar yoona??? Ditunggu lanjutannya thor.. semangaatt yaaa 😀

    Like

  14. hahaha….. yoona salah ngenalin orang. dikira adiknya eh malah orang lain. apalagi imajinasi liarnya yoona bikin orang ketawa terpingkal-pingkal.
    apa apaan ini baru ketemu udah mau dilamar. ck…penasaran ma part selanjutnya.

    Like

  15. Yuri eonni sich mnrt aq ngax slh cOz kan dia dlu yg ktmu sami si Alex2 itu, Cba aja dri awal Yuri eonni ngsh tau kex Yoona eonni psti ngax bakal kyk gini..
    Cie Siwon oppa ngelamar Yoona eonni Ahay 😉

    Like

  16. Wah keren deh baru pertama bertemu yoona dah mau dlamar aja ama wonppa tuh gmn reaksi yoong ya n apakah dia akan menerima wonppa ya???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s