[FF] The Name I Loved – 2

the name i loved2

Title : The Name I Loved

Author : Choi zuazua/choizuazua

Cast : Im Yoona, Choi Siwon

Other Cast : Kwon Yuri, Ny.Im

Genre : Romance, Angst, Sad, Family, Frienship

Rating : 16+

Poster : Berta yoonwonited/xoloveyoonwon

Warning !

Hanya sebuah imajinasi yg ku tuangkan dalam goresan tanganku, so don’t copy paste tanpa minta ijin, setidaknya hargailah sebuah karya yg kau nikmati !

Part 2

Monggo dibaca..

#bismillah..

****

Z
.
.
.

Yoona, gadis itu terlelap dalam gendongan Siwon setelah lelah menangis. Kehangatan yang disalurkan Siwon melalui ketulusannya ketika menggendonynya membuat gadis itu tertidur nyenyak.

“Astaga ! Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa basah kuyup seperti ini? Sudah tahu hujan kenapa tidak berteduh dulu !”pekikan Yuri membuat Yoona bangun.

“Noona lihatlah pekikan suaramu yang melebihi 5 oktaf itu membangunkannya. Aish.. Sepertinya gendang telingaku pecah.” gerutu Siwon.

“Yakk.. Kau meledekku. Berlebihan sekali, eoh.” sebal Yuri.

“Anggap saja seperti itu. Yuri noona paling tahu aku bukan?”

“Arraseo, kau hanya bercanda.”

“Ehem.. Sampai kapan kalian melupakanku ? Aku benar-benar diacuhkan.” Yoona membuka suaranya, terdengar agak merajuk.

“Aigoo adik kecilku maafkan kita, ne?” sesal Yuri lebih tepatnya berpura-pura. Yoona mengurucutkan bibirnya seiring mengembungkan kedua pipinya menangkap kode kepura-puraan itu.

“Yoona-ya bagaimana eonni tidak mencubitmu, jika wajahmu menggemaskan seperti ini.” Yuri benar-benar mencubit kedua pipi adiknya.

“Appo eonni.. Siwon oppa, Yuri eonni mencubitku..” adunya ke Siwon.

“Haruskah aku membalasnya, Yoong ? Tapi, sebelum aku melakukannya alangkah lebih baik jika kau turun terlebih dulu. Punggungku serasa mau patah, eoh.” dengan masih cemberut Yoona turun dari gendongan Siwon.

“Hahaha.. Meskipun Yoona terlihat seperti bayi, tapi berat badannya melebihi berat bayi pada umumnya. Kkkeke.. Kau baru saja menggendong bayi raksasa, Siwon-ah..” tawa Yuri pecah, ia selalu senang menggoda adik kecilnya.

Keceriaan yang hadir ditengah-tengah hujan deras sore itu tidaklah berselang lama. Ny. Im menghampiri mereka bertiga dengan tatapan membunuhnya khusus terarah pada putri bungsunya.

“Ternyata kau masih ingat rumah ?” sindirnya dingin. Tentu itu untuk Yoona !

“Eom-ma..” Yuri tergagap memanggil eommanya.

“Mianhae, Yoona pulang terlambat.” ujar Yoona menunduk sedalam-dalamnya.

“Apa maumu, hah ? Jika kau sudah bosan tinggal disini, pergilah sejauh mungkin. Jangan mempermalukanku dengan kelakuan nakalmu.” tanpa belas kasih Ny. Im berkata sedemikian kejamnya.

“Anniya eomma.. Yoona tidak bermaksud seperti itu.” sergah Yoona, wajahnya terangkat seketika bertemu pandang dengan tatapan mematikan itu.

“Meski kau mengatakan tidak bermaksud, kelakuan nakalmu sudah memperlihatkan dengan jelas apa maksudmu ! Tidak menghargai peraturan yang ku buat dirumah ini !”

“Eomma, Yoona ‘kan baru pulang terlambat hari ini saja. Lagipula hujan sedari tadi siang sudah turun, mereka pasti terjebak hujan.” bela Yuri.

“Yuri, eomma tidak menyuruhmu berbicara apalagi membelanya. Anak sialan itu harus dihukum agar mengerti apa saja peraturan jika dia masih mau tinggal dirumah ini !”

“Ahjumma, bukankah ini terlihat sangat kejam ? Menghukumnya tanpa mendengarkan penjelasan Yoona ?” sahut Siwon.

“Oh.. Betapa hebatnya dirimu. Aku tidak menyangka anak sialan sepertimu selalu dibela oleh orang-orang terdekatku. Sihir macam apa yang kau gunakan untuk mengelabuhi orang-orang terdekatku, hah !” tatapan mematikan sekaligus benci ny Im semakin membuat jantung Yoona serasa diremas kuat-kuat.

“Tsk.. Haruskah aku tertawa melihat ini semua ? Ahjumma, tidakkah ahjumma sadar ? Ahjumma barusaja menyebut putri kandung ahjumma, anak sialan ? Aigoo.. Jika Yoona anak sialan lalu ahjumma eomma sialan ‘kah ? Karena seorang anak tidak akan pernah ada didunia ini tanpa dilahirkan seorang eomma!” Siwon tidak bisa lagi menahan kekesalan hatinya.

“Siwon aku tahu kau putra sahabatku. Namun tidak sepantasnya kau selalu ikut campur urusan keluargaku ! Jangan pernah atau aku tidak akan pernah mengizinkanmu bermain kemari !”

“Jika bukan karena Yoona tinggal disini, terlintas dalam pikiranku untuk datang kemari bahkan tidak pernah ! Maaf, jika perkataanku terdengar kasar.”

“Siwon, pulanglah !” bujuk Yoona. Ia tahu dewa pelindungnya itu sedang diliputi kemarahan.

“Kau !” tunjuk Ny. Im kearah Siwon.

“Eomma sudahlah. Lebih baik kita masuk udara semakin dingin.” ajak Yuri tahu situasi sedang memanas meskipun suasana sedang dingin karena  hujan turun deras.

“Yuri-ya, eomma belum selesai dengannya !”

“Eomma, kita masih bicara didalam..”

“Ya, kita hanya eomma dan kau..”

“Eomma, jangan mulai.. Jebal !”

“Gwaenchana unnie..”

“Yuri-ya kau dengar sendiri ‘kan. Dan kau cepat berdiri disana ! Ini hukuman atas kenakalanmu !”

“Eomma ! Yoona bisa sakit, hujan begitu deras !”

“Tak ada protes untukmu, Yul !”

“Tap-…”

“Aku akan melakukannya unnie, berhenti membantah ucapan eomma ! Nan gwaenchana..”

“Paboya ! Kau benar-benar akan sakit, Yoong !”

Yoona hanya tersenyum menenangkan untuk Yuri yang sedang dilanda kesal akan dirinya. Bukan ia bermaksud tak mematuhi perintah kakaknya, hanya saja perintah dari wanita yang melahirkannya didunia ini paling utama untuknya. Sekalipun perintah itu menyakitinya, ia tidak apa-apa. Baginya ini salah satu bentuk baktinya terhadap orangtuanya !

Kaki jenjangnya perlahan melangkah keluar rumah, berdiri disana tepat pada titik tengah halaman luasnya. Hujan kembali mengguyur tubuhnya yang belum sempat kering.

Ketika aliran hujan mengaliri wajahnya, tepat saat itu juga Yoona memejamkan matanya erat. Menikmati sensasi belaian dan sentuhan dinginnya air hujan.

Dalam situasi itu terlintas dalam benaknya membayangkan bahwa setiap belaian dan sentuhan air hujan yang menyentuh pori-porinya, Yoona anggap sebagai belaian dan sentuhan lembut tangan ibunya. Darahnya berdesir hebat menikmati imajinasinya itu, membuat sudut bibir tipisnya tertarik keatas membentuk seuntai senyum surga terpatri pada wajah dewinya.

*

Satu hal yang menggugah mata Siwon untuk mengeluarkan cairan krystalnya adalah melihat cara Yoona menjalankan hukumannya. Tiada kesan marah ataupun sebangsanya, yang ada hanya kesan menikmati hukuman yang tak selayaknya gadis belia itu dapatkan.

Oh Tuhan.. Sekiranya apa yang Engkau rencanakan sewaktu menciptakan makhluk tak berdosa itu ?

“Kau terlihat teramat menikmati, Yoong !” sindir Siwon, tangannya terulur memayungi kepala Yoona dan kepalanya menggunakan mantelnya yang juga sama basahnya.

Meskipun tak berpengaruh banyak, setidaknya Siwon telah berusaha melindungi gadis belianya. Ia berharap tindakan kecilnya sedikit menghalangi terpaan air hujan.

“Berhenti tersenyum seperti itu ! Kita tidak sedang mekakoni peran romantis !”

“Tapi kau sudah terlanjur menciptakan peran romantis bersamaku, oppa..”

“Ya.. Dan itu karena kebodohanmu !”

“Terimakasih atas pujiaannya tuan muda Choi..”

Siwon menghela nafas lemah, sejujurnya hatinya merasa tersayat setiap saat melihat Yoona menerima hukuman-hukuman dari ibunya. Ingin rasanya ia menarik tangan Yoona membawanya lari sejauh mungkin agar gadis belia itu tak tersakiti sewaktu-waktu. Bukan hanya luka fisik namun juga luka batin yang didapatkannya. Walaupun didepan mata semua orang gadis belia itu selalu memperlihatkan bahwa dirinya baik-baik saja. Akan tetapi mata Siwon tidak buta untuk melihat seberapa besar gadis beliau itu menderita. Seberapa menyiksanya gadis beliau itu mencoba menyembunyikan luka yang didapat dari ibu kandungnya.

“Gwaenchana ?” akhirnya kata itu keluar juga dari bibir Siwon. Sangat lembut penuh kehati-hatian.

Yoona membuka matanya, senyumnya lenyap seiring airmatanya yang menyerbak keluar.

“Tidak peduli aku berkata baik-baik saja atau tidak, kau jauh lebih tahu diriku, oppa.”

“Arraseo..” Siwon mengangguk lemah.

“Hapus airmatamu, mari kita lakukan ini bersama-sama !” senyum menawan Siwon memberinya semangat, lantas Yoona menghapus airmatanya sendiri.

“Gomawo..”ucapnya penuh ketulusan.

“Karena kau spesial jadi kau tidak perlu berterimakasih, Yoong.”

“Dan karena kau dewa penolongku, hari ini cukup menolongku sampai disini. Pulanglah, aku tidak ingin dewaku sakit..”

“Anniya !”

“Pulanglah, oppa !”

“Anniya !”

“Kau bisa sakit, oppa..”

“Lalu bagaimana denganmu, kau juga bisa sakit !”

“Tapi setidaknya jika aku sakit oppa bisa merawatku, maka dari itu pulanglah sebelum kita sakit bersama !”

“Aku tidak mendengar !”

“Menyebalkan !”

Yoona mendengus kesal, memalingkan wajah cemberutnya. Siwon terkekeh pelan, setidaknya dalam cuaca sedingin itu, kehangatan menyapa relung hati keduanya.

“Aku mendengar tawa sumbangmu itu, kuda !”

“Apa itu sebuah pujian, rusa ?”

“Menurutmu ?” tanya Yoona sengit.

“Tentu saja !” jawab Siwon mantap.

*

“Siwon oppa..” panggil Yoona setelah setengah jam kemudian.

“Ne..”

“Pulanglah, ini lebih dari cukup..”

“Tapi, ahjumma belum mengijinkanmu masuk, Yoong.”

“Aku percaya sebentar lagi eomma akan keluar menginjinkanku masuk. Pulanglah, eoh..”

“Sungguh ?” walau sedikit tak yakin, Siwon mencoba menuruti keinginan gadis belianya. Yoona, tipikal seseorang yang selalu memikirkan perasaan orang lain. Jika ia terus menemani Yoona, sudah pasti gadis beliau itu akan terbebani dengan kondisinya yang mungkin saja bisa jatuh sakit.

Oh Tuhan.. Aku memohon kepadaMU berilah selalu kesehatan untuk kedua sahabat itu.

“Sungguh, pulanglah. Jangan khawatir, aku adalah HimYoona !” senyum menyakinkan itu menghantar kepulangan Siwon yang dalam hatinya masih saja ada rasa tak rela meninggalkan gadis belia itu sendirian.

*

Jika sedang terjadi hujan deras, seorang ibu pasti akan melarang putra-putrinya berada diluar rumah. Namun semua itu tak berlaku untuk ny.Im, beliau dengan tega membiarkan lebih tepatnya menyuruh putri bungsunya berhujan-hujanan.

Aksi kejam itu membuat putri sulungnya geram. Yuri tak kuat lagi melihat keadaan adik kecilnya. Kulit putih salju adikknya kini tlah memucat, wajah ceria adiknya yang dua jam lalu masih bisa tersenyum berganti pucat pasi, bibir ranum adiknya berubah membiru.

Kakak mana yang tega melihat adiknya semenyedihkan itu ?

Bergegas cepat ia menuju kamar ibunya, memohon supaya ibunya bersedia mengakhiri hukuman kejam itu. Tapi, apa yang terjadi..?

Ibunya bergeming diatas ranjangnya. Menulikan telinganya, membuat permohonan Yuri berakhir sia-sia.

Jika ibunya bisa berbuat semena-mena dengan adik kecilnya, Yuri pun sama. Persetan akan hukuman itu, persetan akan segala perintah ibunya.

Yuri berlari kearah Yoona, memeluk tubuh dingin adik kecilnya.

“Maafkan unnie yang tak bisa berbuat banyak, Yoongie-ah..”

Yoona tersenyum dibalik bahu Yuri. Tangannya bergerak mengusap punggung kakaknya.

“Gwaenchana, Yul unnie tetap yang terbaik.”

“Kita harus masuk dan membersihkan tubuhmu. Kau terlalu dingin, sayang.”

Yoona menggeleng, membuat dekapan Yuri semakin kuat.

“Unnie mohon.. Dengarkan unni sekali ini saja. Kau sudah cukup menjalankan hukuman ini.”

Sekali lagi Yoona menggeleng, membuat dekapan hangat itu terenggut karena Yuri melepaskannya.

Terlihat jelas Yuri tidak suka atas penolakan Yoona !

“Mianhae, tapi eomma belum mengijinkan Yoongie..”

“Jangan keras kepala Yoona ! Lihat kondisimu !”

“Aku hanya mematuhi perintah eomma, apa aku salah ? Aku hanya ingin eomma tahu bahwa aku sangat mematuhi setiap apa yang eomma katakan. Aku ingin eomma melihatku, eonni..” Yoona menunduk saat dadanya luarbiasa sesak.

“Meski itu hanya sekali, aku ingin eomma melihatnya..”lirihan itu bagaikan sebilah belati yang menancap tepat dijantung Yuri.

“Kau tidak pernah salah, sayang. Kau adalah kebenaran dikeluarga ini. Suatu saat eomma akan melihatmu.. Eomma akan menyesali perbuataannya selama ini.”

Tangan Yuri meremas lembut tangan Yoona, memberinya sebuah kekuataan hangat.

“Kau tidak pernah sendiri sayang. Unnie selalu disisimu.. Ayo kita lakukan ini bersama-sama.” senyum ceria Yuri menarik Yoona ikut tersenyum juga.

*

Sebenarnya ada rasa bersalah yang dirasakan Ny. Im manakala melihat kedua putrinya saling menguatkan satu sama lain ditengah amukan hujan.

Namun ny. Im tetap membutakan matanya selama ini, memupuk kebencian atas keliharan putri bungsunya, hingga menjadi tumbuh kian pesat.

Baginya kelahiran Yoona adalah malapetaka dalam kehidupannya yang menyebabkan ny. Im kehilangan suami tercintanya. Pelindungnya bersama putri sulungnya selama ini.

Untuk kali ini saja ny. Im mengalah, tidak ingin putri sulungnya jatuh sakit. Jika bukan karena Yuri berada disana menemani Yoona, mungkin ny. Im tetap membiarkan Yoona berada diluar rumah sampai malam tiba.

*

Yoona pov

Sekali lagi malam ini aku melihatnya secara kebetulan. Eomma masih terlihat seperti eomma melakukannya dengan baik. Menatap Yuri unnie dengan lembut penuh kasih sayang.

Mataku kian memanas mendapati kenyataan demi kenyataan yang selalu menghantam tepat di ulu hatiku.

Eomma hanya mengkhawatirkan Yuri unnie !

Eomma hanya dapat melihat Yuri unnie !

Ketika kata-kata eomma yang dingin mencapai hatiku, mata ini basah tanpa ku ketahui.

“Kau beruntung karena keberadaan putriku disisimu ! Jika tidak, jangan harap kau bisa masuk secepat ini ! Jangan pernah berharap ada kata maaf untukmu,anak sialan sepertimu tidaklah pantas mendapatkannya !”

Sebegitu burukkah aku didepan matamu, eomma ? Mengapa begitu sulit untukku menggapaimu? Mengapa hanya aku yang merasa ketakutan ?

Eomma..
Ketakutan itu terus-menerus datang menderaku bersamaan dengan hancurnya hatiku.

“Cepat bersihkan tubuhmu ! Jangan pernah jatuh sakit, jika sehat saja kau sudah merepotkanku !”

Entah darimana asalnya, ketika hatiku mulai hancur menjadi serpihan-serpihan kecil. Mereka kembali terbentuk lagi , walau hanya sebentar aku tersenyum sebelum eomma menghantamnya lebih keras lagi.

Eomma..
Apa yang harus aku lakukan untuk bersama ? Aku yang kecil ini, begitu rapuh didalamnya. Tataplah aku walau hanya sekejap, itu cukup untukku. Cukup memulihkan jiwa lelahku.

Ada saat dimana aku berpikir bahwa aku ingin berakhir seperti ini. Berhenti sampai disini, kalah dengan situasi buruk ini. Tetapi setiap kali melihat senyum indahmu, aku bahkan tidak bisa untuk mengakhirinya. Keinginan untuk selalu melihatmu menjadi lebih besar.

Aku tetap tidak akan pernah bisa berakhir seperti ini eomma. Bagaimana aku bisa ? Bagaimana aku melakukannya ? Jika aku selalu rindu rupamu.

Aku percaya bahwa seiring berjalannya waktu kita dapat berubah. Oleh, sebab itu aku akan menunggu pada nasib baik yang akan datang padaku untuk bisa menggenggam tangan eomma.

Dibalik celah pintu ini, mataku melihat dengan indah betapa lembut eomma membelai wajah Yuri unnie. Kasih sayang itu nyata didepan mataku, tapi berubah tabu jika hendak ku raih.

Eomma..
Tidak bisakah kau membaginya sedikit kepadaku ? Tidak apa-apa jika itu hanya secuil.

Eomma..
Semakin dekat aku melihatnya, sebenarnya aku semakin terluka. Aku ingin berlari, tapi kakiku masih terpaku disini. Menyaksikan bagaimana eomma memberi cinta, menghantarkan Yuri unnie menuju tidurnya. Aku yakin setiap malam Yuri unnie bermimpi indah, karena eomma melakukannya.

*

Dijendela dan dimataku embun terbentuk, aku berani bertaruh sebentar lagi aliran kecil terbentuk.

Hampir setengah jam aku berbaring diatas ranjangku mencoba menyelami mimpi. Tapi aku tidak bisa, hanya mampu menatap kosong langit-langit kamarku. Padahal sekujur tubuhku rasanya sakit, aku juga bisa merasakan suhu tubuhku meninggi. Kepalaku juga pusing, aku lelah tapi mengapa aku tak kunjung pingsan juga.

“Selamat tidur Yuriku sayang. Mimpilah yang indah, eomma selalu bersamamu dan mencintaimu..”

Disana pada langit-langit kamarku bayangan itu sangat jelas. Ini sakit, sungguh sakit, eomma.

Aku takut jika aku memejamkan mata airmata itu akan mengalir. Aku mencoba menahannya, tapi aku kalah eomma. Aku membiarkan mataku tertutup dan setetes airmata itu pun jatuh.

“Hiksss.. Ini menyakitkan, eomma..”

Yoona pov end

Gerimis hujan mengiringi isak tangis Yoona malam itu. Gadis beliau itu benar-benar kesakitan. Bibirnya terus meracau ‘sakit’. Beruntung disaat seperti itu dewa penolongnya selalu ada untuknnya. Siwon seakan mempunyai ikatan batin yang sangat kuat dengan Yoona. Terbukti malam ini Siwon dengan rela memanjat mohon untuk sampai dikamar Yoona. Rumah mereka memang bersebelahan.

Siwon juga sudah siap dengan obat-obatan, ia menjelma menjadi dokter untuk malam ini.

Brukk..

Siwon berhasil mendarat dikamar Yoona , beruntung gadis belianya tidak mengunci pintu jendelanya.

Pemandangan memprihatinkan menyambutnya. Yoona, gadis belianya itu sekarat diatas ranjangnya. Membuat Siwon dengan cepat menghampirinya.

“Yoongie, apa kau bisa mendengarkanku ?” tangan Siwon mengecek kening Yoona.

Rasanya begitu panas !
Sial ! Gadis belianya demam tinggi !

“Yoongie-ah, ireonna..”

“Enghh.. Appo..”

Siwon ikut meringis mendengarnya.

“Hey.. Ini aku, kau akan baik-baik saja,eoh..”

“Hikss op-pa.. Appo..”

“Gwaenchana, aku datang untuk menyembuhkanmu.. Minumlah ! Ini akan menurunkan demammu..” Siwon membantu Yoona meminum obat yang ia bawakan. Tak lupa juga ia, membantunya meminum air mineralnya.

Tangannya mengusap sisa air yang berada disudut bibir pucat Yoona.

“Berbaringlah..”

“Hajima..”mohon Yoona parau.

“Tidak, aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu sampai kau sembuh. Percayalah, pejamkan matamu sebentar, dan aku pasti akan kembali.” ucap Siwon lembut.

“Yaksok..”

“Ne, yaksok..”

Setelah Yoona memejamkan matanya, Siwon bergegas keluar mengambil wadah untuk mengompres Yoona. Ia harus mengendap-endap selayaknya pencuri. Beruntung semua penghuninya sudah tidur. Jadi, Siwon dengan cepat bisa kembali ke kamar Yoona.

“Hey, tadi aku memintamu untuk berbaring..” sapa Siwon.

“Bagaimana kau bisa disini ?”

“Itu tidak penting, Yoong. Berbaringlah kembali aku akan mengompresmu..”

Meskipun Yoona menurutinya, tetapi Siwon tahu bahwa gadis belianya itu menunggu jawaban darinya.

Batu setelah Siwon menaruh handuk kecil dikening Yoona, dokter dadakan itu menjawab.

“Aku masuk kesini lewat jendela, Yoong. Tidak perlu khawatir ahjumma tak akan melihatku.”

“Tapi kamarku berada dilantai dua, bagaimana bisa oppa sampai ?”

“Apa kau lupa keahlianku ?”

“Aigoo.. Itu berbahaya, bagaimana jika oppa jatuh..”

“Apa kau lupa siapa aku ? Aku ini dewa penolongmu, selamanya aku akan baik-baik saja untukmu..”

“Gomawo..”

Itu kata terakhir yang keluar dari mulut Yoona, sebelum jatuh dalam tidurnya.

Selang beberapa jam Siwon masih terjaga, merawat Yoona sangat baik. Sampai rasa kantuk melandanya, hingga tanpa sadar ia jatuh tertidur disamping Yoona.

*

Tbc

Oiyaa ff ini juga dipost diwattpad ya.. Yg kmren readers nyuruh saya bikin wattpad saya udh bikin, kke jangan lupa difollow @choizuazua

 

Advertisements

65 thoughts on “[FF] The Name I Loved – 2

  1. Bener2 kejam nech eommanya yoona…yg sabar ya yoona…siwon oppa jgn pernah ninggalin yoona ya..tetep djaga baik2 yoonanya…

    Fighting n gomawo ya…

    Like

  2. Ini udh lama dipost , tp aq bru sempet baca , kekeke~ *Mianhae unnie 😉
    Ny.Im kejam bnget. . . KezeLlL deh , ,
    Yuri bnr2 syang sm Yoona , .
    Dewa penolong~~
    akankah Yoona mencintai Siwon’ ? *Yak,pastinya :-* :-*

    Keren bnget lah pokoknya :-* :-*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s