[FF] An Investment Wedding – 1

investmment wedd

 

 

 

Judul: An Investment Wedding

Karya: Hanifah PR

Genre: Romance, Fiction

Cast: Choi Siwon, Im Yoona

 

 

Entah ada sebuah keajaiban apa yang terjadi, hingga empat tahun sejak Yoona mulai bekerja di perusahaan tempat nya bekerja, Siwon mengajak nya bertemu secara pribadi. Secara struktural, Siwon adalah atasan Yoona. Maka tak heran jika Yoona merasa terkejut atas tawaran Siwon.

 

Mereka akan makan siang bersama di restaurant italia di seberang gedung kantor. Yoona keluar gedung sendirian menuju tempat bertemu yang sudah di sepakati. Ternyata Siwon juga berada di lobby depan gedung saat itu. Pria itu lalu berjalan menghampiri Yoona dan tersenyum. Yoona membalas senyumannya. Mereka kemudian berjalan bersama.

 

Saat mereka dan kerumunan yang lain akan menyebrang, tangan Siwon dengan sengaja mengandeng tangan Yoona. Yoona sungguh terkejut. Siwon menggandeng Yoona sepanjang jalan hingga restaurant. Tangan Siwon besar dan kokoh, dan juga hangat begitulah yang Yoona rasakan. Mereka kemudian memilih duduk di pojok ruangan.

 

“Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu,”

 

“Tapi sebelumnya, kita pesan makanan terlebih dahulu,” sambung Siwon.

 

Yoona memesan lasagna dan iced americano sedangan Siwon menyamakan pesanannya dengan Yoona. Pelayan restaurant kemudian menulis pesanan mereka dan segera undur diri.

 

“Ayo kita menikah!”

 

Yoona mengenyeritkan kedua alis nya. Terkejut bukan main dengan ucapan Siwon. Apa ia cukup sehat untuk mengatakan hal tersebut? Dan kata-kata pembuka macam apa ini? Pikir Yoona.

 

“Maaf?”

 

“Aku serius! Ayo kita menikah!” Ulang Siwon lagi.

 

“Apa maksud anda direktur?”

 

“Kita menikah. Seperti halnya sebuah pernikahan yang lain,”

 

“Anda dan…” Yoona menujuk dirinya.

 

“Tentu saja, apa ada orang lain sini?”

 

Yoona menggeleng.

 

“Kau masih sendiri bukan?” Yoona kemudian mengganguk sebagai jawaban.

 

“Bagus. Aku juga sendiri. Jadi tidak ada yang salah bukan?”

 

Yoona mengganguk lagi. Kemudian ia menggeleng. Yoona masih butuh waktu untuk memproses pembicaraan ini.

 

“Maksud anda?”

 

Percakapan mereka terpotong dengan disajikan nya sepiring lasagna dan segelas iced americano di meja mereka. Siwon mulai makan begitu pula Yoona. Baru setelah piring mereka kosong, percakapan ini mulai mereka sambung kembali.

 

“Ku pikir kau cukup pintar untuk memahami ucapan ku. Kita, aku dan kau menikah. Tinggal bersama dan seperti pernikahan pada umumnya,”

 

“Apa anda yakin mengatakan itu, emm maksud ku, anda mengajak saya menikah,”

 

“Kau benar Im Yoona?” Yoona mengganguk.

 

“Jadi, aku benar,”

 

“Alasan apa yang membuat anda ingin menikahi saya?”

 

“Ku rasa kau wanita yang tepat untuk ku. Kau baik, pintar, realistis, tidak macam-macam dan itu yang aku cari,”

 

“Mengapa anda bisa menilai saya seperti itu? Anda belum mengenal saya?”

 

“Pengamatan ku tidak pernah meleset,” Siwon menyesap minumanya sejenak, “Lagi pula ada keuntungan yang aku tawarkan. Tidak mungkin hanya aku yang akan diuntungkan di dalam pernikahan ini. Kau juga akan mendapatkannya. Kau bisa lebih mengembangkan bakat mu atau kau ingin mempunyai studio sendiri dengan label nama mu atau kau ingin bekerja di brand studio indie milik ku yang sepenuhnya akan menjadi hak dan milik mu? Kau hanya cukup menjadi istri ku, menemani ku ke acara-acara dan kita akan bekerja sendiri-sendiri. Kau dengan pekerjaan mu dan aku dengan pekerjaan ku. Kau tidak akan menganggu ku dan aku tidak akan menganggumu, itu lah menagapa aku menawarkan pernikahan ini kepadamu. Kau seorang yang bijak dan tidak suka mencampuri urusan orang lain. Kau cukup pendiam dan tidak banyak bicara. Kau juga relistis dan satu lagi kau tidak gila belanja seperti wanita lain,”

 

Yoona terdiam. Sejujurnya ia masih bingung dengan situasi ini. Empat tahun mereka tidak pernah berbincang satu sama lain, bahkan pertemuan mereka pun bisa dihitung. Kemudian secara tiba-tiba Siwon mengajak nya bertemu dan mengajak nya menikah. Dan juga bagaimana bisa Siwon begitu benar menilai tentang dirinya. Apakah selama ini Siwon sering memperhatikannya secara diam-diam?

 

“Ku berikan kau waktu untuk berfikir. Dua minggu kedepan aku akan ada perjalanan bisnis, ku harap setelah aku kembali, kau akan menyetujui nya,”

 

 

Dua minggu dengan cepatnya berlalu. Yoona bahkan sudah lupa dengan tawaran itu. Mungkin Siwon hanya main-main dengan ucapan nya, pikir Yoona. Pria itu begitu tampan dan kaya. Siwon bisa saja mencari wanita lain bukan dirinya. Tapi mengapa justru ia yang Siwon pilih. Yoona pikir dia seperti kebanyakan wanita lain, tidak ada yang spesial di dirinya. Sebelumnya, Siwon sudah mengirimi nya pesan yang mengatakan bahwa Siwon akan menemui Yoona. Yoona hanya membalas ya sebagai bentuk sopan santun.

 

Hari ini hari minggu, Yoona sedang libur. Seperti biasanya, setiap bulan sekali Yoona akan berbelanja bulanan untuk mengisi kulkas dan membeli kebutuhan nya yang lain. Ia pergi ke supermarket dengan berjalan kaki karena lokasinya yang dekat dengan apartemen miliknya.

 

Setelah berbelanja , seperti biasa jika Yoona ada waktu luang ia akan berbincang sebentar dengan pemilik supermarket. Pemiliknya adalah seorang ahjumma berumur 60 tahunan. Namun kadang kala ia ahjumma Han dibantu anak laki-lakinya. Walaupun toko milik nya tidak terlalu besar tapi kehidupan ahjumma Han selalu cukup. Yoona dan ahjumma Han cukup dekat karena sejak Yoona menempati apartemennya , mereka sering mengobrol ketika Yoona selesai berbelanja. Yoona pikir hanya ahjumma Han lah yang ia kenal di lingkunan nya.

 

Mereka kemudian berbincang tentang segala hal. Tentang keinginan ahjumma Han untuk melihat anak laki-lakinya menikah, kemudian Yoona yang mengeluhkan pekerjaan nya yang banyak dan sering lembur dan banyak lagi. Tiga jam pun sudah mereka habiskan berbincang bersama. Yoona rasa ini sudah cukup dan ia harus segera pulang, karena ia juga sudah lapar meskipun tadi ahjumma Han sempat menawari nya untuk makan siang bersama namun Yoona tolak.

 

Yoona berjalan pulang ditemani Junsu, anak laki-laki ahjumma Han. Junsu kadang-kadang menemani Yoona pulang ketika dirasa toko dalam keadaan sepi atau setidaknya ahjumma Han dapat melayani pelanggan.

 

“Akan lebih menyenangkan jika berjalan bersama-sama apalagi dengan mu,”

 

“Ahhh…” Yoona tersipu dengan kata-kata Junsu.

 

Mereka mengobrol banyak di sepanjang perjalanan pulang. Junsu yang berpawakan tinggi besar adalah seseorang yang menyenangkan menurut Yoona. Walaupun tidak akan banyak hal yang mereka diskusikan karena Junsu adalah pria yang sederhana, tidak terlarut dalam hingar bingar kota Seoul yang bagi Yoona, Seoul saat ini selayaknya NewYork, kota yang tak pernah tidur. Tapi Yoona justru dibuat kagum dengan Junsu yang mampu menahan diri dan berpegang teguh pada prinsip yang ia junjung. Pria itu justru mengatakan bahwa ia merindukan kampung halamannya di Busan. Dalam sisa perjalanan mereka Junsu bersemangat sekali menceritakan tempat asalnya yang hijau, dan juga perkarangan rumahnya yang di penuhi aneka tumbuhan sayur dan buah segar. Yoona jadi penasaran seperti apa rumah Junsu itu. Ia sepertinya ingin mengunjunginya suatu saat nanti.

 

Tak terasa, tibalah mereka di depan gedung apartemen yang Yoona tempati. Yoona terkejut melihat Siwon berada di depan gedung apartemen nya sedang bersandar di kap mobil dengan kedua tangan yang di masukan ke saku mantel. Yoona pikir Siwon akan menemui nya di hari-hari mendatang. Bukan hari ini. Bukankah ini hari kepulangan Siwon dari perjalanan bisnisnya. Dan pria itu langsung menemuinya?

 

Junsu terlihat canggung, ada pria lain yang sedang menunggu Yoona. Apalagi pria itu sangat berbeda jauh dengan dirinya. Dia pun berpamitan pulang. Namun sebelumnya, Junsu mengecup pipi kanan Yoona sebelum akhirnya ia pergi dengan berlari. Ini pertama kalinya Junsu melakukannya. Mungkin tanda persahabatan atau karena ia menganggap Yoona sebagai saudaranya. Entahlah.

 

Yoona menggosok pipi yang Junsu cium tadi. Merasa malu terhadap Siwon yang tak lain adalah atasannya karena melihat adegan itu sebelumnya. Yoona pikir Junsu mengumpulkan segala keberanian nya untuk mencium nya. Karena Yoona tahu, Junsu adalah pria pendiam sekaligus pemalu.

 

“Ciuman yang manis,” puji Siwon yang justru terlihat sebagai sebuah olokan kepada Yoona.

 

“Ah, Direktur Choi? Selamat siang?” Sapa Yoona canggung.

 

“Selamat siang. Ku harap kau masih ingat dengan janji kita dua minggu yang lalu,” kata Siwon tanpa basa-basi.

 

“Ku pikir anda sedang membuat lelucon saat itu, direktur!”

 

“Sudah ku katakan, aku serius dengan ucapanku,”

 

“Hmm…” Yoona tersenyum canggung. Yoona bingung harus mengatakan apa.

 

“Boleh aku masuk ke dalam? Di luar cukup dingin,”

 

“Ah ya, mari!”

 

Mereka pun berjalan bersama menuju apartemen Yoona. Siwon membawakan barang belanjaan Yoona yang sempat Yoona tolak karena segan. Tidak ada perbincangan lagi di antara mereka.

 

“Silahkan masuk. Maaf jika tempat ini kecil karena hanya aku yang tinggal di sini,”

 

“Ini cukup rapi dan bagus,” puji Siwon setelah meletakan belanjaan Yoona di meja dapur lalu mengamati ruangan disana. Yoona cukup pintar dan kreatif untuk menata ruangan yang tidak terlalu luas namun terlihat nyaman dengan dekor yang apik dan beberapa panjangan dan peralatan yang ia buat secara DIY (do it yourself).

 

“Terimakasih,”

 

Yoona lalu menata semua belanjaan nya ketempatnya, namun Siwon memaksa untuk membantu nya. Dengan terpaksa Yoona pun menyetujuinya. Siwon membantu Yoona menata sayur dan buah ke dalam kulkas, segala bahan makanan dan snack-snack kedalamnya. Yoona cukup tersipu dengan perlakuan Siwon padanya. Tak pernah Yoona bayangkan sedikitpun, atasan nya di kantor itu akan menata telur untuk nya.

 

“Ini sudah waktunya makan siang. Apakah kau tidak keberatan mengajak ku makan siang dengan mu Yoona-ssi?” Kata Siwon begitu selesai menata aneka sayur dan buah dan yang lain di kulkas.

 

“Ah, tentu!” Jawab Yoona canggung. Tentu saja Yoon harus melayani Siwon, karena pria itu adalah tamu nya saat ini selain karena ia sungkan mengingat Siwon juga atasannya.

 

Yoona kemudian menggeluarkan bahan-bahan untuk membuat menu makan siang mereka. Awalnya Siwon ingin membantu, namun Yoona tolak. Yoona menyuruh Siwon untuk menunggu saja di ruang tengah. Yoona akan memanggil Siwon nanti ketika makanan sudah siap. Siwon setuju. Yoona mulai memasak. Sejujurnya, Yoona risih jika ada orang lain yang melihat atau mengamati nya ketika sedang memasak, apalagi seorang pria, dan parahnya pria ini adalah atasan nya.

 

Perlu 45 menit untuk menyelesaikan menu makan siang mereka. Yoona pun membawa dan menatanya di meja makan, kemudian memanggil Siwon untuk ke ruang makan.

 

Saat mereka makan siang bersama di ruang makan Yoona yang sederhana, Siwon menikmati semua hidangan yang Yoona sajikan. Mereka berbincang santai tentang hal-hal ringan seputar gaya hidup, apa yang sedang menjadi trend sampai masalah politik Korea. Hingga tanpa Yoona maupun Siwon sadari mereka sudah saling bertanya satu sama lain.

 

Setelah makan siang selesai, Siwon memaksa lagi untuk membersihkan piring-piring kotor. Tanpa ragu Siwon mengikat celemek di tubuhnya lalu mulai mencuci sedang Yoona membantu mengeringkan piring dan menata nya kembali ke rak piring. Yoona pikir setelahnya pria itu akan pulang tetapi justru pria itu menuju ruang tamu. Yoona menatap Siwon dengan pandangan tak suka.

 

” Ayolah ini hari minggu, tidak bisakah aku disini lebih lama lagi? Aku ingin mengenal calon istri ku lebih dekat,”

 

Yoona memutar kedua bola matanya tak suka. Yoona bahkan sudah berani berperilaku tidak sopan di depan atasannya. Tapi Yoona juga kesal sendiri dibuatnya, karena pria itu sudah seenaknya masuk kedalam lingkup pribadinya.

 

“Apa jawaban mu?”

 

“Aku belum memikirkannya!” Yoona ikut duduk di sofa namun posisi mereka bersebrangan. Bahkan sekarang Yoona sudah menggunakan kata aku bukan saya seperti pertemuan awal mereka dulu.

 

“Astaga! Ku pikir dua minggu waktu yang cukup banyak untuk memikirkan hal ini,”

 

“Aku merasa bahwa kau tak serius dengan kata-katamu itu,”

 

“Aku sudah mengatakan kepada mu bahwa aku serius dengan apa yang ku katakan,”

 

“Tapi…”

 

“Apa ada yang menganjal dalam pikiranmu ? Katakan saja!”

 

“Bukan begitu, hanya saja aku masih tidak percaya dengan hal ini. Secara tiba-tiba anda mengajak ku menikah, padahal sebelumnya kita tidak pernah bertegur sapa, atau sekedar berbicara bersama,”

 

“Hanya itu?”

 

“Ya?”

 

Siwon tertawa, “Apa yang membuat mu sulit untuk memberikan jawaban? Apa tawaran ku dua minggu yang lalu kurang untuk mu? Kau bisa meminta nya jika kau ingin,”

 

“Tidak, terimakasih!”

 

“Lalu bagaimana?”

 

“Jadi begini …”

 

“Panggil aku Siwon,” potong Siwon.

 

“Baiklah, jadi begini Siwon-ssi. Bagiku pernikahan bukan hanya sebuah keuntungan materi seperti yang kau tawarkan. Kau melihat pernikahan seperti sebuah investasi. Tapi bagi ku tidak, pernikahan adalah sesuatu yang sakral karena menyatukan dua orang yang saling mencintai. Walaupun saat ini aku sedang sendiri, tapi aku tidak berbohong bahwa aku ingin menikah kelak dengan pria yang mencintai ku dan ku cintai pula. Ini bukan hanya sekedar keuntungan yang akan ku dapat. Aku tak pernah berharap materi dari sebuah pernikahan. Jadi aku cukup tersinggung dengan penawaran mu,”

 

Siwon menatap gadis di depannya. Sejujurnya ia terkejut menemukan kepribadian Yoona yang berbeda dengan apa yang Yoona tampilkan di kantor. Gadis itu begitu pendiam dan tidak menonjolkan diri di antara yang lain, begitu tenang dan rapi. Namun saat ini bukan itu yang Siwon lihat. Dengan celana kain santai ala rumahan, kaos t-shirt bergambar logo sebuah band Inggris dan rambut yang ia sanggul asal sehingga beberapa anak rambut tipis yang mencuat tak berturan namun terlihat seksi di mata Siwon, ia seperti melihat Yoona yang berbeda, apalagi wajah gadis itu yang tak memakai makeup apapun, Yoona terlihat seperti remaja dengan kulit putih dan pipi merah tomat segarnya. Apalagi kepandaian gadis itu memasak, harus di acungi jempol pula. Siwon tak menampik walau gadis itu bukan chef proffesional namun rasa masakan gadis itu membuat Siwon betah untuk menyantap menu makanan yang akan Yoona sajikan untuknya setiap hari. Siwon menginginkannya, tak salah jika ia memilih Yoona untuk menjadi istrinya.

 

Ehem…

 

Yoona merasa risih mendapat tatapan memuja dari Siwon. Ia tak biasa dipandangi dan juga tak suka. Segera Yoona berdehem dengan keras dan sengaja agar tatapan itu terhenti.

 

“Ah…” Siwon rupanya terkejut. Sesegara ia mengalihkan pandangannya dari Yoona dan mencari objek apapun sebagai pengalihan. Tak biasanya ia menatap seorang wanita dengan tatapan memuja selain kepada ibunya. Karena bagi Siwon, Yoona berbeda.

 

“Siwon-ssi…”

 

“Ah ya, jadi bagaimana Yoona-ssi? Apa kau setuju? Ku harap iya,”

 

“Bisa kau katakan alasan yang sebenarnya?”

 

“Aku sudah memberitahu mu di awal. Alasan lain karena ku rasa kita akan baik-baik saja sebagai suami istri,”

 

“Itu bukan jawaban yang ku minta,”

 

“Mungkin saat ini aku tidak atau belum mencintaimu, seperti yang kau harapkan dalam pernikahan, dan aku tidak menggagap pernikahan ini sebagai pernikahan investasi. Aku mencoba berpikir logis, bahwa pada zaman seperti ini pernikahan mungkin tidak lagi tentang cinta, karena zaman berubah dan kebutuhan semakin meningkat, kurasa tidak ada salahnya aku memberikan mu tawaran yang menjanjikan. Dan aku yakin kita akan baik-baik saja nanti,”

 

“Seyakin itu?”

 

“Ya,”

 

“Tapi aku bukan gadis seperti yang kau bayangkan Siwon-ssi. Aku bukan calon istri ideal yang akan puas hanya dengan diam dirumah menunggu mu pulang, menemanimu menghadiri acar-acara kolega mu, jamuan makan malam kelas atas atau ikut dalam acara amal perusahaan. Aku tak akan puas menghabiskan hari ku hanya seperti itu,”

 

“Aku tidak menyurumu berhenti bekerja, bukankah aku sudah menawarkan mu sesuatu yang dapat menaikan nilai plus pada bidang yang kau tekuni?”

 

“Sejak dulu aku tidak menyukai hal-hal berbau nepotisme. Aku benci sesuatu yang instan dan mengandalkan kekuasaan orang lain. Aku ingin berjuang dengan usaha ku sendiri, tawaran mu justru menyakiti harga diriku,”

 

Siwon tertawa melihat Yoona yang begitu keras kepala. Sungguh gadis itu justru semakin membuat Siwon penasaran.

 

“Tapi kita bisa berteman baik bukan?”

 

“Tentu saja Siwon-ssi, bukankah kita berada dalam satu lingkup perusahan yang sama. Kita bisa saling menyapa satu sama lain. Meskipun kita akan sulit bertemu karena kau tahu sendiri aku tidak satu divisi dengan mu,”

 

“Apakah kau tidak menyukai ku?”

 

Yoona membelakan matanya, “Ya tuhan! Atas dasar apa aku tidak menyukaimu. Ku akui kau sangat tampan dan kaya. Dan aku juga menghormati mu sebagai seorang atasan. Tapi tidak ada alasan bagi ku untuk menyukaimu. Kau cukup dingin ketika di kantor, kau bahkan jarang tersenyum dan berjalan dengan kepala mendongkak, seolah-olah kau lebih tinggi dari mereka!”

 

Siwon terkagum-kagum dengan penjabaran Yoona tentang dirinya, “Kau benar-benar mengamati ku dengan sempurna!”

 

“Apakah perkataan ku tadi menyinggungmu Siwon-ssi? Apakah kau akan memecat ku karena menyinggung harga dirimu?”

 

Siwon tertawa keras sambil memegangi perutnya, tidak menyangka Yoona akan mengatakan hal tersebut. Yoona yang melihatnya menjadi heran. Tidak pernah sebelumnya ia melihat Siwon tertawa sebegitu lepasnya.

 

“Hahaha… Maafkan aku,” Siwon mengakhiri sesi tawanya.

 

“Siwon-ssi!” Yoona mulai tak suka. Kehadiran pria itu benar-benar mengusik daerah pribadinya. Apalagi pria itu menggangu hari minggunya yang benar-benar Yoona nantikan. Karena di pagi hari tadi, Yoona sudah merencanakan untuk menghabiskan minggunya dengan melihat serial drama yang baru ia download.

 

“Baiklah, jika kau merasa kurang nyaman aku berada di wilayah mu. Bagaimana jika kau yang berada di wilayah ku. Kau bisa mengetahui tentang diriku lebih dekat lagi, mari kita keluar!”

 

Siwon menarik Yoona lalu menyuruh gadis itu untuk berganti pakaian. Setelah Yoona sudah mengganti pakaian rumahnya, Siwon membawa Yoona menuju mobilnya.

 

“Ku harap kau nyaman berada di dalam mobil ku,”

 

“Apakah kau bercanda? Mobil mu benar-benar nyaman sekali. Ini pertama kalinya aku akan merasa betah berlama-lama di dalam mobil. Hmm kurasa harga yang ditawarkan sebanding dengan kenyamanan yang diberikan. Pantas saja sangat mahal!”

 

Siwon lagi-lagi dibuat tertawa oleh gadis itu. Yoona begitu menyenangkan di mata Siwon. Ia tertipu rupanya oleh perilaku Yoona di kantor. Karena Yoona yang sekarang duduk bersamanya di dalam mobil benar-benar berbeda dengan Yoona ketika di kantor.

 

“Yoona-ssi, aku tidak menyangka kau begitu menyenangkan. Kau terlihat hidup dengan kata-katamu yang pintar,”

 

“Tapi kau terlihat tidak menyenangkan, Siwon-ssi”

 

“Aku? Bagaimana bisa?”

 

“Kau adalah pria perfeksionis yang gila kerja. Selalu dingin dengan bawahan mu, kau juga sering marah-marah. Beruntungnya diriku tidak satu divisi dengan mu. Tapi kau beruntung karena bisa mengenal ku karena sejak saat ini kau cenderung lebih banyak tertawa dan tentu saja kau terlihat manusiawi,”

 

Siwon lagi-lagi tertawa. Astaga! Gadis ini begitu mengemaskan, pikir Siwon.

 

“Baru saja ku beritahu kau sudah tertawa. Hmm… Syukurlah, setidaknya kehadiran ku membawa dampak positif untuk orang lain,”

 

Siwon tersenyum manis, ia mengacak pelan rambut hitam Yoona yang saat ini dibiarkan tergerai. Yoona megerucutkan bibirnya tak suka, enak saja pria itu sudah berani menyentuh kepalanya. Apa dia tidak tahu, ini adalah titik kelemahan nya?

 

“Kau sangat tidak sopan Siwon-ssi, meski kau mengajak ku menikah bukan berati kau bisa bertindak semaumu, karena kita baru mengenal dan aku juga tidak setuju dengan tawaran mu itu. Lebih baik kau lebih menjaga sikapmu dengan orang yang baru kau kenal,”

 

“Sungguh Yoona-ssi, kau terlalu banyak bicara hari ini. Kau memperlihatkan padaku sosok dirimu yang sebenarnya. Tapi aku senang, kau benar-benar sosok teman yang aku butuhkan saat ini,”

 

Mobil Siwon mulai memasuki kawasan perumahan elit di Gangnam. Banyak bangunan real estate di sepanjang jalan dengan warna cream yang mendominasi. Hal ini sangat berbeda dengan lingkungan apartemennya yang banyak rumah-rumah atap dan gang-gang sempit.

 

“Rumah mu bagus sekali, seperti yang sering ku lihat di drama-drama. Apa kau juga menyewakan rumah mu untuk lokasi syuting?” Yoona melepas sabuk pengamanan dengan cepat lalu keluar terlebih dahulu dari mobil.

 

“Terimakasih atas pujian mu, tapi aku tidak akan menyewakannya. Aku masih punya banyak uang,”

 

Yoona berdecih, “Sombong sekali…”

 

“Mari kedalam!” ajak Siwon.

 

Mereka disambut oleh seorang laki-laki cukup tua namun masih terlihat segar. Ia adalah orang kepercayaan Siwon yang ditugaskan untuk menggurusi rumahnya itu.

 

“Kenalkan ini Tuan Park, aku lebih suka memanggilnya Samchon, ia adalah orang yang menggurusi rumah ini dan juga di dalam ada istrinya yang bertugas dalam hal domestik dan dapur. Dan samchon, ini adalah Yoona, calon istri ku,”

 

Yoona menatap Siwon tak suka. Tapi Siwon tak peduli. Ia memilih berjalan kedalam mendahuli Yoona.

 

“Anyeonghaseyo?” Yoona mengucapkan salamnya pada Tuan Park.

 

“Anyeonghaseyo, kau sangat cantik aggashi,”

 

“Ah, terimakasih,” jawab Yoona tersipu.

 

Yoona menyusul Siwon kedalam dan menemukan pria itu sedang duduk di sofa bersama anjingnya yang sangat mengemaskan.

 

“Bugsy lihatlah itu adalah calon ibu baru mu,”

 

“Ck!” Yoona berkacak pinggang merasa kesal.

 

“Kemarilah, Bugsy sangat jinak sekali,”

 

Siwon menyerahkan Bugsy kepada Yoona.

 

“Hai?” sapa Yoona pada Bugsy.

 

“Guk…guk…guk,”

 

Minggu itu mereka habiskan bersama dengan mengelilingi rumah mewah Siwon. Mereka berdua berbincang tentang apapun yang mereka temui di rumah itu, letak benda, desain interior, pemilihan furniture, tata jendela, warna cat dinding, motif lantai semuanya yang mereka rasa perlu di komentari. Hingga akhirnya hari menjelang malam, Yoona memutuskan untk pulang. Siwon sudah menawarinya untuk singah lebih lama namun Yoona tolak. Dengan terpaksa, Siwon pun mengantar Yoona pulang bersama Bugsy karena anjing itu tidak mau lepas dari Yoona. Mungkin insting anjing itu mengatakan bahwa gadis itu akan menjadi penghuni baru rumah mereka nantinya. Bukankah insting hewan terkadang benar?

 

Sampai di gedung apartemen Yoona, Siwon bersama Bugsy mengantar Yoona sampai di depan pintu.

 

“Selamat malam Yoona-ssi, terimakasih. Aku sangat menikmati hari ini,”

 

“Terimakasih juga Siwon-ssi,”

 

Yoona membelakan mata ketika tiba-tiba Siwon mencium pipinya lembut sebelum menghilang di koridor dan masuk ke dalam lift.

 

 

 

To be continued

 

 

 

Haloo semua? Semoga masih ada Yoonwon shipper ya.

Duh tangan gatel pengen buat cerita tentang mereka, karena mulai kesini cerita tentang mereka mulai berkurang.

Aku jadi kangen tahun-tahun 2012-2013 hehe yang masih melimpahnya ff tentang mereka.

 

Semoga cerita ini bisa mengobati rasa rindu kita bersama. Dan jujur aku menulis ini juga karena terinspirasi sama fiction favorit aku , kan sayang kalo ngak di translate kedalam yoonwon story hehe.

 

Tinggalkan komentar jika ingin di lanjut^^

Kalo ngak ada yang komentar ya wassalam deh heuheu

 

Terimakasih dan byeee

 

*tinggalkan kritik dan saran juga

 

 

-Hanifah PR-

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

153 thoughts on “[FF] An Investment Wedding – 1

  1. ya ampun, si siwon g pernah nyapa sekalinya ngajak ngobrol langsung ngajak nikah aja 😀 suka bnget sama ceritanya ringan tp tetep ngena bnget feel nya, yg paling ak suka karakter tokoh udah di jelasin diawal jd susah nebak karakternya gmana, love banget sm ff ini, ijin lanjut baca y chingu 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s